Politik: Negara, Teman, Agama dan Pilihan

Menjadi warga negara tentunya tidak akan asing dengan istilah politik. Mau tidak mau, suka tidak suka, dalam menjalani kehidupan dan memenuhi hak serta kewajiban sebagai warga negara pasti akan terlibat dengan hal ini. Tanpa politik, negara tidak akan bisa berdiri dan berfungsi seperti sekarang ini (ya, memang negara saya politiknya sudah bobrok tapi akuilah tanpa politik ia akan jauh lebih jatuh lagi).

Saya bukan orang yang fasih politik. Tertarik pun, sebenarnya tidak bisa dibilang tertarik. Saya hanya bermodalkan ide dan opini orang-orang di sekitar saya, baik itu di dunia nyata maupun di dunia maya. Serta artikel-artikel berbau politik yang lewat di timeline media sosial saya. Mungkin Anda akan bilang bahwa sumber yang saya baca bukan sumber yang crediblebut at least I can give you the sources. Dari sumber itulah, saya menetapkan pilihan saya.

Saya ingat, saya baru benar-benar peduli politik sekitar 3 tahun yang lalu. Pemilu 2014 merupakan pemilu paling membekas di hati saya. Selain karena saat itu merupakan pertama kalinya saya dapat memenuhi hak pilih saya,  drama perpolitikan yang terjadi membuat saya ingin muntah. Fitnah di mana-mana, capres dan cawapres menjadi kambing hitam, banyak berita palsu yang tidak masuk akal dan akhirnya malah memancing tawa dari pihak yang difitnah. Untuk pertama kalinya juga, saya dapat melihat sisi lain dari orang-orang di sekitar saya. Entahlah, mungkin saya memang sok tahu, mungkin saya memang shallow.

Tapi saya menjadi tahu, mana orang yang tadinya netral akhirnya dapat menentukan pilihan menurut hati nuraninya setelah melihat debat dan hasil kampanye sang calon, mana yang ‘setia’ dan bersikukuh dengan pilihannya, antara memang dia sangat yakin hingga menutup mata dengan keburukan sang calon yang memang terpampang nyata atau karena setia dengan partai pengusung calon tersebut.

Ah, saya terdengar bitter sekali. Saya akui, saya bukan orang yang senang berdebat dengan orang lain dan saya (jeleknya) selalu menganggap bahwa saya yang benar, orang lain salah. Orang lain yang berbeda pendapat dengan saya, salah. Saya sadar saya memiliki sifat jelek tersebut ketika pemilu presiden terakhir itu. Media sosial saya dipenuhi teman-teman saya yang mempromosikan pilihannya. Banyak juga yang memilih diam, namun sebagian besar teman saya memilih untuk mengekspresikannya. Saya, pada awalnya, tidak mau mengungkapkan pilihan saya, karena saya yakin pilihan tersebut rahasia, sesuai dengan prinsip pemilu yang luberjurdil. Terlebih lagi, saya malas jika harus berdebat dengan teman-teman saya sendiri, karena kebetulan pilihan saya berbeda dengan mereka. Saya bisa membayangkan bagaimana perdebatan yang akan terjadi dan saya tahu, saya akan kalah. Ya, saya yakin dengan pilihan saya namun saya tak percaya diri dapat ‘menyerang’ pendapat orang lain dengan begitu meyakinkan. Saya membaca banyak pendapat orang, serta beberapa data dan menurut saya itu belum cukup untuk menangkis lawan.

Hal tersebut terulang lagi di tahun ini, atau lebih tepatnya tahun lalu. Sekedar informasi saja, saya tidak tinggal di ibukota, sehingga sebenarnya saya tidak punya hak untuk memilih gubernur kota tersebut. Akan tetapi, selayaknya warga negara ini, yang terkadang menganggap ibukota jauh lebih penting dan utama dibandingkan kota tempat tinggalnya sendiri, saya cukup memperhatikan alur pemilu ibukota. Selain itu, terdapat kasus dari sang gubernur yang memang sejak awal mungkin sudah tidak disukai.

Jika Anda tanya pendapat saya tentang gubernur tersebut, saya menyukai dan menghormati beliau. Datangnya beliau ke ibukota dengan sikap yang jauh berbeda dengan pendahulunya tentu membuat warga di sana sangat terkejut. Terlebih lagi dengan perawakan dan agamanya yang termasuk minoritas di negeri ini. Banyak yang suka, banyak pula yang tak suka. Itu wajar, menurut saya. Terkait dengan ‘skandal’ beliau yang katanya menistakan agama paling besar di negeri ini, saya berpendapat bahwa beliau hanya berkata hal yang salah di waktu yang salah. Saya tidak setuju dan kecewa, tapi hal tersebut bisa menjadi peringatan bagi beliau untuk lebih berhati-hati lagi atas perkataannya. Saya percaya beliau orang yang cerdas, baik dan bijaksana, serta beliau tidak punya maksud untuk memperolok kepercayaan tersebut. Kalau memang beliau membenci agama tersebut, mengapa beliau punya keluarga angkat yang berbeda agama dengan beliau? Selain itu, tidak pantas pula untuk para pemeluk agama besar yang mencintai perdamaian itu untuk menghakimi sendiri dan memaksa para penegak hukum memberikan hukuman yang tidak sesuai dengan peraturan dalam undang-undang negeri ini.

Saya tahu, saya berbeda pendapat dengan mereka. Mereka melihat dari kaca agama, saya dan para pendukung beliau melihat dari kaca politik dan negara. Mereka mengatakan NKRI harga mati, namun mengapa hanya agama mereka yang dibawa? (Saya tahu saya berkata seakan agama mereka bukanlah agama saya namun konteksnya tidak seperti itu). Negara ini negara Pancasila, bukan negara agama. Lalu, mereka membalas bagaimana dengan sila pertama? Tapi Pancasila terdiri dari lima sila, bukan satu sila. Kalau satu saja, namanya bukan panca. Baik, mungkin tulisan saya tidak akan habis jika saya terus membahas hal ini.

Tulisan ini telah pergi entah ke mana, tapi memang tujuan awal saya menulis adalah untuk menumpahkan unek-unek saya, bukan untuk menyerang satu golongan atau mengkampanyekan satu pihak.

Mengenai pilihan, saya jadi teringat dengan dosen Sejarah Indonesia saya. Semester kemarin, saya berkesempatan mengambil kelas eksternal beliau dan saya sangat bersyukur akan hal itu. Meskipun saya punya pendapat yang berbeda dengan beliau, namun beliau menginspirasi saya untuk terus belajar sejarah demi negeri ini. Beliau juga yang meyakinkan saya dengan kata-katanya, bahwa berbeda pendapat merupakan hal yang wajar. Yang bermasalah adalah, jika Anda terus berganti pendapat. Awalnya Anda percaya dengan ideologi A. Akan tetapi, beberapa tahun berikutnya Anda berpindah ke ideologi B. Kemudian beberapa tahun berikutnya berpindah lagi.

Orang bilang bahwa perubahan merupakan hal yang tidak dapat Anda hindari, namun menurut dosen saya, untuk beberapa hal berdiam diri di satu tempat merupakan pilihan terbaik. Jika Anda percaya dengan A, teruslah percaya dengan hal itu. Cari tahu, yakinkan diri Anda sendiri mengapa Anda percaya dengan hal tersebut. Mau seburuk apa pun pilihan Anda, selama Anda teguh memegang pilihan itu, orang lain akan menghormati Anda dan menilai Anda sebagai pribadi yang memegang omongannya. Bukan orang yang mudah merubah pendapatnya. Dosen saya berkata hal tersebut membuatnya dikenang orang. Beliau merupakan sosok yang berani mengungkapkan pendapatnya yang berbeda dengan orang di sekelilingnya, sehingga tak heran jika banyak yang berkonsultasi dengan beliau untuk meminta pendapatnya. Banyak pula yang menghormatinya.

Karena itu, sebenarnya wajar saja jika Anda bersikukuh dengan pilihan Anda. Anda merasa pilihan Anda benar, Anda berhak untuk meyakinkan orang lain bahwa Anda benar. Begitu juga dengan saya. Saya yakin saya telah memilih yang terbaik dan saya akan terus mempertahankan pilihan saya. Selain itu, tidak peduli denga pilihan Anda, selama Anda memilih dan yakin dengan yang Anda pilih, negara ini pasti akan berjalan terus ke arah yang lebih baik.

Reading Your Mind

When I was a child, I used to think how cool is that if you have ability to read people’s mind. You can get perfect score at school, have a bunch of friends, win several competitions and so on. You can be a perfect person. How exciting is that.

Back then, I think how convenient is it to know what my boyfriend think of me so I won’t waste my time thinking what he feels about me. Or what should I give him for his birthday. Or that time when I had unrequited love, I could use my ability to know what he thought about me. It’s efficient to avoid heart-break, isn’t?

As time goes by, I realize it isn’t easy.

Now I think its better to not know about what people think of me. I become so nervous everytime I want to do something. What if they thought that I am so extra? What if I looked ugly and they laughed behind me? What if they bad-mouthing me when I am not looking?

I know that kind of thinking is toxic. I cant even move an inch from my position now without worrying what the others might think of me.

I know I should haven’t care about it. No matter how loud I scream, explaining from my point of view, they would just do exactly as what their mind tell them to.

So I am.

I still have that toxic mind, but I am trying to not get it inside me anymore.

I’m grateful now for not having that reading mind ability. Jean Grey has it and look what she became. She is the Dark Phoenix.

I’m sickly insecure of myself and I dont think telephatic or whatsoever could pull me out of it. Worse, it might push me deeper to the black pit hole.